RONGGA, SMKN1RONGGA.SCH.ID — Pendidikan karakter yang berdampak nyata membutuhkan contoh dan skenario praktik langsung. Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam amanat Apel Pagi GTK SMKN 1 Rongga pada Rabu (19/08/2026).
Pembina apel, Suhendar Aryadi, S.Pd., Gr., memberikan contoh konkret dua pembiasaan sederhana yang selama ini kerap hanya berhenti pada tataran himbauan lisan: budaya membuang sampah pada tempatnya dan budaya antri tertib.
Dua Contoh Konkret: Sampah dan Antrian
“Seringkali kita melihat poster ‘Buanglah Sampah Pada Tempatnya’ atau ‘Harap Antri’, namun di lapangan pelanggaran tetap terjadi. Mengapa? Karena otak belum terlatih melakukan gerakannya secara motorik. Solusinya, kita buat simulasi nyata: latih siswa memegang sampah, memilah jenisnya, dan berjalan memasukkannya ke wadah yang benar. Begitu pula antri, harus dipraktikkan saat membeli makanan di kantin atau masuk ke laboratorium,” papar Suhendar Aryadi.
Peran Mirror Neurons dalam Pembiasaan
Melalui mekanisme mirror neurons (saraf cermin) pada otak, peserta didik secara naluriah akan meniru tindakan yang mereka lihat secara konsisten di lingkungannya. Ketika guru dan tenaga kependidikan tidak hanya memerintah melainkan ikut mempraktikkan simulasi tersebut bersama siswa, proses imitasi positif akan terjadi berlipat ganda lebih cepat.
Ikuti kami di: www.smkn1rongga.sch.id · TikTok @smkn1rongga · Instagram @smkn1rongga
