RONGGA, SMKN1RONGGA.SCH.ID — Perubahan zaman menuntut pendekatan pendisiplinan yang lebih humanis, mendidik, dan efektif. Dalam amanat apel GTK pada Rabu (19/08/2026), Suhendar Aryadi, S.Pd., Gr. menggarisbawahi perlunya pergeseran dari paradigma hukuman (punitive) menuju pembiasaan restoratif berbasis pemahaman cara kerja otak.
Menurutnya, hukuman yang memicu rasa takut hanya mengaktifkan amigdala (pusat stres otak) tanpa melatih prefrontal cortex (pusat pengambilan keputusan rasional dan moral) untuk memahami perilaku yang benar.
Melatih Respon Alternatif yang Konstruktif
“Ketika seorang siswa melanggar antrian atau membuang sampah sembarangan, memberi hukuman fisik tidak mengajari otaknya cara bertindak benar. Sebaliknya, minta dia berhenti, renungkan kesalahannya, dan lakukan simulasi mengulang tindakan yang benar sebanyak tiga kali. Dengan demikian, otaknya mencatat memori korektif yang nyata,” jelas Suhendar Aryadi.
Menciptakan Iklim Sekolah yang Aman dan Suportif
Pendekatan disiplin positif berbasis neurosains ini menciptakan atmosfer sekolah yang kondusif, di mana siswa merasa dihargai dan dibimbing untuk menjadi pribadi yang matang secara emosional dan berkarakter kuat.
Ikuti kami di: www.smkn1rongga.sch.id · TikTok @smkn1rongga · Instagram @smkn1rongga
